Selasa, 02 Maret 2010

PERANAN BAHASA INDONESIA DALAM KONSEP ILMIAH

Pada suatu karya tulis ilmiah, bahasa memegang peranan penting dalam proses penulisan dan penyusunannya. Dalam penyusunan suatu tulisan yang berkonsep ilmiah harus menggunakan bahasa yang baku dan ejaan yang benar serta sistematika penulisan yang terstruktur. Sehingga suatu karya tulis dapat menyajikan suatu informasi yang berkualitas. Bentuk-bentuk karya tulis yang memiliki kaitan dengan penulisan ilmiah yaitu: makalah, skripsi, tesis, dan disertasi.

Dalam pembuatan penulisan ilmiah seperti skripsi, tesis dan disertasi, memiliki penyusunan yang berbeda dengan menyusun suatu tulisan yang bersifat non ilmiah. Suatu karya ilmiah harus menggunakan metode ilmiah dalam pencarian data atau informasi baik itu dilakukan secara langsung atau tidak langsung dalam mendapatkan informasi.

Bahasa yang digunakan pada penulisan ilmiah pada umumnya menggunakan bahasa yang biasanya jarang muncul pada kamus bahasa Indonesia dan bahasa yang dicantumkan pada suatu tulisan ilmiah memiliki suatu arti dan makna dari berbagai bidang ilmu. Contoh kata yang memiliki arti ilmiah yaitu: konservatif, generalisasi, liberal, serta masih banyak lagi kata yang dipakai dalam penulisan ilmiah.

Bahasa merupakan kunci untuk membuka jendela pengetahuan kita. Dengan bahasa kita dapat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi, walaupun bahasa indonesia sudah berperan sebagai alat persatuan di negeri kita. Bahasa indonesia belum dapat berperan sebagai pengantar ilmu pengetahuan. Hal tersebut kerena sebagian dari buku ilmu pengetahuan di dunia ini belum diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia. Karena hal tersebutlah kita diharuskan menerjemahkan semua buku ilmu pengetahuan di dunia ini ke dalam bahasa indonesia. Dengan adanya informasi dalam bahasa indonesia tersebut, pasti akan ada kemajuan di bidang ilmu pengetahuan yang sangat berarti bagi bangsa dan sekaligus meningkatkan mutu bahasa indonesia sebagai bahasa ilmiah.

Ejaan ialah penggambaran bunyi bahasa dalam kaidah tulis-menulis yang distandarisasikan; yang meliputi pemakaian huruf, penulisan huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan, dan pemakaian tanda baca:
1. Huruf abjad: abjad yang digunakan ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf: Aa, Bb, Cc, Dd, Ee, Ff, Gg, Hh, Ii, Jj, Kk, Ll, Mm, Nn, Oo, Pp, Qq, Rr, Ss, Tt, Uu, Vv, Ww, Xx, Yy, Zz.
2. Huruf vokal: a, e, i, o, u.
3. Huruf konsonan: b, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, z.
4. Huruf diftong: ai, au, ai.
5. Gabungan konsonan: kh, ng, ny, sy.

Huruf kapital dipakai sebagai berikut.
1. Huruf pertama kata pada awal kalimat
2. Huruf pertama petikan langsung
3. Ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan, kitab suci, termasuk kata ganti
4. Gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
5. Nama jabatan, pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
6. Huruf pertama unsur-unsur nama orang
7. Huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
8. Huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa bersejarah.
9. Huruf pertama nama geografi
10. Huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata depan atau kata hubung.
11. Huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat
pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta
dokumen resmi.
12. Huruf pertama nama buku, majalah, surat kabar, dan judul
karangan, kecuali kata depan dan kata hubung yang berada di
tengah kata.
13. Huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.
14. Huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang dipakai
sebagai sapaan.
15. Huruf pertama kata ganti Anda.

PENULISAN HURUF BERCETAK MIRING

1. Menuliskan nama buku, majalah, koran

2. Menuliskan istilah asing, daerah, ilmiah yang ditulis dengan ejaan aslinya

3. Menegaskan huruf, kata, atau frasa yang dipentingkan/dikhususkan

PENULISAN KATA

A. Kata Dasar

Kata yang berupa kata dasar ditulis terpisah (berdiri sendiri),, Contoh: Siswa itu rajin.

B. Bentuk Ulang

Bentuk ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung,, Contoh: buku-buku, gerak-gerik.

C. Gabungan Kata

1. Gabungan kata / kata majemuk ditulis terpisah,, Contoh: orang tua, Rumahsakit.

2. Gabungan kata yang mungkin menimbulkan makna ganda, diberi tanda hubung,, Contoh: anak-istri ( anak dan istri), buku -sejarah baru (buku sejarah yang baru), buku sejarah- baru (sejarahnya baru)

3. Gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kesatuan ditulis serangkai,, Contoh: halalbihalal, manakala, barangkali, olahraga, kacamata, apabila, padahal, matahari, dukacita manasuka, kilometer,bilamana, daripada, peribahasa,segitiga, sukacita, saputangan,

D. Kata Depan

Kata depan di, ke, dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali yang sudah dianggap sebagai satu kesatuan seperti kepada dan daripada,, Contoh: Di mana ada gula, di situ ada semut, Pencuri itu keluar dari pintu belakang, Mahasiswa itu akan berangkat ke luar negeri.

E. Singkatan dan Akronim

a.Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan jabatan atau pangkat diikuti tanda titik,, Contoh: Muh. Yamin, S.H. (Sarjana Hukum), Bpk. (Bapak), Sdr. (saudara), dll.

b. Singkatan nama resmi lembaga pemasyarakatan dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal setiap kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti tanda titik,, Contoh: DPR, KTP, PT, dll.

PEMBENTUKAN ISTILAH DAN PENULISAN UNSUR SERAPAN

Definisi istilah : Kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu. Beberapa sumber bahasa yang dapat dijadikan sumber istilah:

1. Bahasa Indonesia / Melayu

Salah satu bahasa yang digunakan oleh sebagian masyarakat di dunia adalah bahasa Melayu. Dalam perkembangannya bahasa Melayu berhasil menjadi bahasa yang paling berpengaruh di Asia Tenggara dan satu dari lima bahasa dunia yang mempunyai jumlah penutur terbesar. Melayu merupakan bahasa nasional satu-satunya dari empat Negara: Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Di Indonesia, bahasa Melayu telah menjadi bahasa yang penting. Peran bahasa Melayu meliputi bahasa persatuan, bahasa nasional, dan bahasa pengantar dalam pendidikan. Menurut Koentjaraningrat, pemilihan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia secara historis dikarenakan enam hal. Pertama, ber­kem­bangnya suasana kesetiakawanan yang mencapai momentum puncak yang menjiwai pertemuan antara pemuda cende­kiawan Indonesia yang penuh idealisme pada tanggal 28 Oktober 1928. Kedua, adanya anggapan bahwa bahasa Melayu sejak lama me­rupakan lingua franca, ba­hasa perdagangan, bahasa komunikasi antarorang Indonesia yang melintas batas sukubangsa, dan bahasa yang digunakan untuk pe­nyiaran agama. Ketiga, adanya pengaruh media massa dalam bahasa Melayu. Keempat, berkembangnya ke­biasaan penggunaan bahasa Me­layu dalam rapat-rapat organisasi gerakan nasional. Kelima, tidak adanya rasa khawatir dalam diri warga suku non-Jawa terhadap risiko terjadinya dominasi kebuda­yaan dari sukubangsa mayoritas. Keenam, karena para cendekiawan Jawa sendiri mengecam struktur bahasanya sendiri.

1.1 Kata yang paling tepat mengungkapkan makna konsep, proses, dan keadaan.

- bea => pajak barang masuk dan barang keluar

- cukai => pajak hasil perusahaan atau industri

- pajak => iuran wajib dari rakyat sebagai sumbangan kepada negara.

1.2 Kata yang paling singkat daripada kata lain yang berujukan sama

- gulma => tumbuhan pengganggu

- suaka => perlindungan

- kosa => perbendaharaan

1.3 Kata yang bernilai rasa baik dan sedap didengar

- pembantu => babu/jongos

- karyawan => pekerja / buruh

- pemandu / pramuwisata => penunjuk jalan

2. Bahasa – bahasa daerah serumpun

Bahasa Indonesia masih kekurangan kata–kata yang bernilai rasa atau kata–kata efektif yang melambangkan curahan hati masyarakat. Di antara kata–kata rasa yang sudah sering digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia sekarang,

- bertele – tele => berbicara tidak jelas ujung pangkalnya

- nyeri => sakit pada salah satu bagian tubuh

- pesangon => uang untuk karyawan yang diberhentikan

3. Bahasa asing

Pemakaian istilah asing dapat dilakukan apabila memenuhi syarat sbb:

3.1 Istilah asing yang dipilih lebih cocok karena konotasinya atau lebih bermakna tepat jika dibandingkan dengan persediaan kata yang ada

- amatir => tanpa bayaran

- logis => masuk akal

- spontan => tanpa diminta – minta / dengan sendirinya

3.2 Istilah asing yang dipilih lebih singkat bila dibandingkan dengan terjemahannya

- dokumen => surat – surat penting yg menjadi bukti.

Penulisan ilmiah merupakan sebuah karangan yang bersifat fakta atau real yang ditulis dengan menggunakan penulisan yan gbaik dan benar serta ditulis menurut metode yang ada.

Terdapat beberapa jenis penulisan ilmiah yang dapat di kategorikan sebagai berikut :

Makalah
Karya tulis yang menyediakan permasalahan dan pembahasan sesuai dengan data yang telah di dapatkan di lapangan dengan objektif.

Kertas Kerja
Pada umumnya kertas kerja hamper sama dengan makalah akan tetapi kertas kerja digunakan untuk penulisan local karya atau seminar serta lebih mendalam dari makalah.

Laporan Praktik Kerja
Karya ilmiah yang memaparkan fakta yang di temui di tempat bekerja yang digunakan untuk penulisan terakhir jenjang diploma III (DIII).

Skripsi
Merupakan karya ilmiah yang mengemukakan pendapat orang lain dan data yang telah di dapat di lapangan yang digunakan untuk mendapat gelar S1 :

Langsung (observasi lapangan)
Skripsi
Tidak langsung (studi kepustakaan)

Tesis
Kerya ilmiah yang bertujuan untuk melakukan pengetahuan baru dengan melakukan peneluitian penelitian terhadap hasil hipotesis yang ada.

Disertasi
Karya tulis untuk mengungkap dalil baru yang dapat dibuktikan berdasarkan fakta yang realistis dan data yang relefan serta objektif.

Dalam menulis karya ilmiah sebaiknya menggukan kata-kata atau kalimat yang sesuai dengan kaidah dan bahasa yang penuturannya terpelajar dengan bidang tertentu, ini berguna untuk menghindari ketaksaan atau ambigu makna karna karya ilmiah tidak terikat oleh waktu. Dengan demikian, ragam bahasa penulisan karya ilmiah tidak mengandung bahasa yang sifatnya konstektual,

Masalah yang terjadi dalam karya ilmiah biasanya adalah masalah mengenai abstrak atau konstektual yang nantinya akan sulit dicari kebenaranya dengan alat peraga atau analogi dengan keadaan yang nyata. Untuk mengungkap hal tersebut di perlukan sebuah struktur kata yang sangat canggih, Ciri bahasa keilmuan ialah kemampuan untuk membedakan gagasan atau pengertian yang sangat berbeda dengan bahasa yang baku dan cermat. Dengan begitu akan mudah untuk mencari makna yang sesungguhnya tanpa ada kesalahan sedikit pun, perlu di perhatikan beberapa aspek yang sangat penting yaitu :

- Singkat dan Pendek
- Bermakna Isinya
- Memenuhi kaidah bahasa yang benar
- Komunikatif secara ilmiah
- Berkesatuan yang jelas
- Jelas uraianya
- Memenuhi kaidah kebahasaan

Oleh karena itu, pengajar perlu memperhatikan kaidah yang berkaitan dengan pembentukan istilah, Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI) yang dikeluarkan oleh pusat pembinaan bahasa Indonesia merupakan sumber yang baik sebagai pedoman dalam memperhatikan hal-hal tersebut. Dan juga tanda baca yang tepat untuk di setiap kalimat yang dimuat dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

Penulisan ilmiah merupakan suatu tulisan yang sifatnya benar atau sesuai dengan kenyataan yang ada dan biasanya berisi tentang suatu penerapan ilmu tertentu. penulisan ilmiah harus sesuai dengan metodologi

penulisan yang baik dan benar.Macam-macam bentuk penulisan ilmiah adalah,

1. makalah

Merupakan penulisan ilmiah yang pembahasannya berdasarkan data dilapangan yang bersifat empiris dan objektif

2. Kertas Kerja

penulisan ini hampir sama dengan makalah, hanya saja kertas kerja isinya lebih mendalam dari makalah.

Kertas kerja juga biasanya dipakai untuk didiskusikan, berbeda dengan makalah yang biasanya hanya di pakai untuk laporan saja.

3. Laporan praktik kerja

Merupakan pernulisan ilmiah yang memaparkan hasil temuan dilapangan.

4. Skripsi

Merupakan penulisan ilmiah yang berisis pendapt dari penulis berdasarkan karya ilmiah orang lain. Karya ilmiah ini

biasa digunakn untuk kelulusan mahasiswa jenjang strata satu (S1).

5. Tesis

Merupakan penuisan ilmiah yang berisi pengujian atas suatu hipotesis yang nantinya akan menemukan seatu penemuan baru.

6. Desertasi

Merupaan penulisa ilmiah yang berisi dalil baru yang dapat dibuktikan berdasarkan fakta secara empiris dan objektif. Desertai biasanya digunakn untuk meraih gelar doktor (S3).

Bagian-bagian penulisan ilmiah meliputi, kelengkapan awal, kelengkapan isi, dan kelengakapan akhir. Kelengkapan awal meliputi kulit luar, halaman judul, halaman pengesahan, halaman penerimaan (jika ada), halaman persembahan, abstrak, (dalam bahasa Indonesia dan Inggris), kata pengantar, daftar tabel, daftar grafik, atau gambar (jika ada). Kelengkapan isi meliputi pendahuluan, kajian teori, seputar lokasi objek penelitian (khusus praktik kerja), pembahasan, dan penututp. Kelengkapan akhir meliputi daftar pustaka, riwayat hidup penulis, lampiran data, dan penulisan indeks.

Didalam suatu penulisan ilmiah t erdapat beberapa pengutipan terhadap bebrapa pendapat ahli. Penutipan adalah proses peminjaman pendapat para ahli dalam disiplin ilmu tertentu baik langsung atau pun tidak langsung yang dituangkan dalam karya ilmiah. Hasil pengutipan karya ilmiah disebut kutipan.

Pada akhir suatu penulisan ilmiah harus disertakan sumber-sumber data yang diperoleh baik dari media cetak, internet, dan sebagainya. Sumber-sumber data tersebut dapat dicantumkan pada daftar pustaka. Daftar pustaka adalah daftar yang ada di akhir suatu penulisan ilmiah yang berisiskan identitas dari sumber-sumber yang didapat.

Fungsi dari daftar pustaka adalah sebagai berikut:

1. Menunjukkan bahwa tulisan itu ilmiah (bersifat ilmu pengetahuan);

2. Menginformasikan bahwa karya ilmiah itu (penelitian) memiliki

referensi dan akumulasi dari karya ilmiah terdahulu;

3. Merupakan alat control pada landasan teoretis atau tinjauan pustaka.

Dengan begitu bahasa adalah suatu alat komunikasi yang disampaikan seseorang ke orang lain agar bisa mengetahui apa yang menjadi maksud dan tujuannya. Bahasa indonesia dikenal sebagai bahasa aglutinatif. Artinya, kosakata dalam bahasa indonesia dapat ditempeli dengan bentuk lain, yaitu imbuhan. Imbuhan memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan kata bahasa indonesia. Karena imbuhan mengubah bentuk dan makna bentuk dasar yang dilekati imbuhan itu. Dengan bahasa selaku alat komunikasi, kita bukan saja menyampaikan informasi tetapi juga argumentasi, dimana kejelasan kosakata dan logika tata bahasa merupakan persyaratan utama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar